THE RELATIONSHIP BETWEEN EARLY MARRIAGE AND STUNTING INCIDENCE IN LANGKAT REGENCY
DOI:
https://doi.org/10.53806/ijcss.v6i4.1185Keywords:
stunting, Early Childhood Marriage, Women's Empowerment, Maternal and child health, Child nutritionAbstract
Stunting remains one of the major public health challenges in Indonesia, particularly in Langkat Regency, North Sumatra, where early marriage is still prevalent. This study aims to examine the relationship between maternal age at marriage and the incidence of stunting in children under five, as well as the role of women’s empowerment in prevention. A quantitative correlational descriptive design was applied with purposive sampling of 30 mothers who married before the age of 18 and had children under five years old. Data were collected using structured questionnaires and analyzed with Chi-Square tests and descriptive statistics. The results show a significant association between early marriage and child stunting, ?² (3, N = 30) = 9.090, p = 0.028, with a linear trend (p = 0.004) indicating that the older the maternal age at marriage, the lower the prevalence of stunting. At 15 years of marriage age, 75 percent of children experienced stunting, compared to 53.8 percent at 16 years, 12.5 percent at 17 years, and none at 18 years. Women’s empowerment indicators reveal that although most respondents have access to health information (93.3 percent) and routinely attend posyandu services (86.7 percent), only 23.3 percent independently make decisions regarding child health, showing limited agency despite available resources. These findings confirm that early marriage significantly increases the risk of stunting through biological immaturity, limited nutritional literacy, and reduced maternal decision-making. Women’s empowerment emerges as a strategic pathway to delay marriage, strengthen parenting, and reduce stunting prevalence. Policy recommendations include enhancing adolescent reproductive health education, improving maternal nutrition literacy, and promoting cross-sectoral collaboration between health, education, and religious affairs offices.
References
[1] T. S. Mentari, “Pola Asuh Balita Stunting Usia 24-59 Bulan,” HIGEIA J. Public Heal. Res. Dev., vol. 4, no. 4, hal. 610–620, 2020.
[2] N. Khosiah, A. Dirgayunita, I. A. Soliha, dan R. Adawiyah, “Edukasi Pernikahan Dini Dalam Upaya Pencegahan Stunting Pada Jam’iyah Muslimat Al-Barokah,” Bubungan Tinggi J. Pengabdi. Masy., vol. 4, no. 2, hal. 436, 2022, doi: 10.20527/btjpm.v4i2.4784.
[3] F. D. Bella, N. A. Fajar, dan M. Misnaniarti, “Hubungan pola asuh dengan kejadian stunting balita dari keluarga miskin di Kota Palembang,” J. Gizi Indones., vol. 8, no. 1, hal. 31, 2020, doi: 10.14710/jgi.8.1.31-39.
[4] K. Dinda, K. Hanum, N. Hasanah, Y. Fazrah, dan S. Saleh, “Pengaruh Pernikahan Dini terhadap Tingkat Pertumbuhan Stunting di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan,” Reslaj Relig. Educ. Soc. Laa Roiba J., vol. 6, no. 2, hal. 139–149, 2024, doi: 10.47467/reslaj.v6i2.271.
[5] F. D. Bella, N. A. Fajar, dan M. Misnaniarti, “Hubungan antara Pola Asuh Keluarga dengan Kejadian Balita Stunting pada Keluarga Miskin di Palembang,” J. Epidemiol. Kesehat. Komunitas, vol. 5, no. 1, hal. 15–22, 2020, doi: 10.14710/jekk.v5i1.5359.
[6] A. Adil, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Teori dan Praktik, no. January. 2023.
[7] M. M. Ali, T. Hariyati, M. Y. Pratiwi, dan S. Afifah, “Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Penerapannya dalam Penelitian,” Educ. Journal.2022, vol. 2, no. 2, hal. 1–6, 2022.
[8] N. Rusliani, W. R. Hidayani, dan H. Sulistyoningsih, “Literature Review: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita,” Bul. Ilmu Kebidanan dan Keperawatan, vol. 1, no. 01, hal. 32–40, 2022, doi: 10.56741/bikk.v1i01.39.
[9] A. S. Adha, N. W. Bahtiar, I. A. Ibrahim, S. Syarfaini, dan N. Nildawati, “Analisis Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Jeneponto,” Al GIZZAI PUBLIC Heal. Nutr. J., vol. 1, no. 2, hal. 71–82, 2021, doi: 10.24252/algizzai.v1i2.21825.
[10] H. Khoiriyah dan I. Ismarwati, “Faktor Kejadian Stunting Pada Balita?: Systematic Review,” J. Ilmu Kesehat. Masy., vol. 12, no. 01, hal. 28–40, 2023, doi: 10.33221/jikm.v12i01.1844.
[11] A. L. Alfajri et al., “Upaya Pencegahan Stunting Melalui Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Mengenai Pentingnya Gizi dan Pola Asuh Anak di Desa Ngambarsari,” J. Pus. Inov. Masy., vol. 4, no. 2, hal. 98–109, 2022, doi: 10.29244/jpim.4.2.98-106.
[12] N. F. Zahra, A. Mardiah, Musyarafah, dan A. B. S. Duarsa, “HUBUNGAN PERNIKAHAN USIA DINI, PENGETAHUAN IBU DAN PENDAPATAN KELUARGA TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI DESA SUKADANA KECAMATAN PUJUT KABUPATEN LOMBOK TENGAH,” CAKRAWALA Med. J. Heal. Sci., vol. 02, no. 01, hal. 11–24, 2023.
[13] S. N. Dayuningsih, Permatasari Endah Astika Tria, “Pengaruh Pola Asuh Pemberian Makan Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita 0-59 Bulan,” J. Kesehat. Masy. Andalas, vol. 14, no. 2, hal. 3–11, 2020, [Daring]. Tersedia pada: http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/
[14] N. Nurhikmah, B. T. Carolin, dan R. Lubis, “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pernikahan Usia Dini Pada Remaja Putri,” J. Kebidanan Malahayati, vol. 7, no. 1, hal. 17–24, 2021, doi: 10.33024/jkm.v7i1.3110.
[15] P. Claudia, “Pernikahan Usia Dini dan Risiko Terhadap Kejadian Stunting pada Baduta di Puskesmas Kertek 2, Kabupaten Wonosobo,” Higeia J. Public Heal. Res. Dev., vol. 2, no. 2, hal. 227–238, 2022.
[16] M. Septrilia, Sriati, dan A. Husin, “ANALISIS KETAHANAN EKONOMI KELUARGA PADA PELAKU PERNIKAHAN USIA DINI DI DESA PENGARINGAN PAGARALAM SUMATERA SELATAN,” J. Comm-Edu, vol. 7, no. 1, hal. 2615–1480, 2024.
[17] M. Duana, S. M. F. Siregar, S. Anwar, J. Musnadi, A. Husna, dan L. E. Nursia N, “Dampak Pernikahan Dini Pada Generasi Z Dalam Pencegahan Stunting,” COMSEP J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 3, no. 2, hal. 195–200, 2022, doi: 10.54951/comsep.v3i2.292.
[18] L. K. Nasution, “Hubungan pendidikan pekerjaan dan peran teman sebaya dengan terjadinya pernikahan usia dini di desa Janjimauli Muaratais III,” J. Educ. Dev., vol. 8, no. 3, hal. 124–129, 2020.
[19] R. P. Lestari, “Hubungan Antara Pernikahan Usia Remaja dengan Ketahanan Keluarga,” Indones. J. Innov. Multidisipliner Res., vol. 1, no. 4, hal. 405–412, 2023, doi: 10.31004/ijim.v1i4.47.
[20] D. Titania dan N. Amalia, “Hubungan Pergaulan Bebas pada Remaja Terhadap Risiko Pernikahan Usia Dini di Samarinda di UMKT,” Borneo Student Res., vol. 2, no. 3, hal. 2021, 2021, [Daring]. Tersedia pada: https://journals.umkt.ac.id/index.php/bsr/article/download/1752/944
[21] J. Lubis dan S. F. Yusuf, “Hubungan Pernikahan Usia Dini Dengan Gangguan Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pijorkoling,” Jidan (Jurnal Ilm. Kebidanan), vol. 1, no. 2, hal. 123–126, 2021, doi: 10.51771/jdn.v1i2.162.
[22] J. Raya, B. Karangsalam, K. Banyumas, dan J. Tengah, “Sosialisasi Bahaya Pernikahan Dini sebagai Upaya Pencegahan Stunting,” WIKUACITYA J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 2, no. 1, hal. 44–49, 2023, doi: 10.56681/wikuacitya.v2i1.50.
[23] L. S. Dewi, B. F. Rahmiati, dan N. Z. Solehah, “Analisis Dampak Pernikahan Anak Perempuan Usia Dini Dengan Status Kesehatan, Gizi, Dan Psikologis,” Nutr. J. Pangan,Gizi,Kesehatan, vol. 3, no. 2, hal. 63–68, 2023, doi: 10.30812/nutriology.v3i2.3042.
[24] Gede Surya Saputra, Ketut Sudiatmaka, dan I Nengah Suastika, “IMPLEMENTASI PASAL 7 AYAT 1 UNDANG-UNDANG NO.16 TAHUN 2019 TENTANG PERKAWINAN MENGENAI PERKAWINAN USIA DINI (Studi Kasus Pengadilan Negeri Singaraja),” J. Komunitas Yust., vol. 5, no. 3, hal. 252–269, 2022, doi: 10.23887/jatayu.v5i3.51904.
[25] M. L. Heryanto, A. Nurasiah, dan A. Nurbayanti, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kejadian Pernikahan Usia Dini Pada Wanita Usia Muda Di Desa Malausma Kecamatan Malausma Kabupaten Majalengka,” J. Midwifery Care, vol. 1, no. 1, hal. 78–86, 2020, doi: 10.34305/jmc.v1i1.198.
[26] H. Hadina, H. Hadriani, M. Muliani, dan S. H. Batjo, “Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting,” Faletehan Heal. J., vol. 9, no. 02, hal. 176–184, 2022, doi: 10.33746/fhj.v9i02.331.
[27] M. Denny Saputra dan N. Amalia, “Hubungan Penggunaan Media Massa dengan Tingkat Risiko Pernikahan Usia Dini di Samarinda,” Borneo Student Res., vol. 2(3), no. 3, hal. 1946–1947, 2021.
[28] H. P. Sihombing dan C. Cutmetia, “Analisis subjective well-being pada pasangan yang menikah pada usia dini,” J. Educ. J. Pendidik. Indones., vol. 10, no. 1, hal. 670–680, 2024, [Daring]. Tersedia pada: https://jurnal.iicet.org/index.php/j-edu/article/view/4419
[29] F. S, M. Awal, dan M. Rifai, “Resiko Yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita,” J. Ilm. Kesehat. Sandi Husada, vol. 10, no. 2, hal. 519–526, 2021, doi: 10.35816/jiskh.v10i2.641.
[30] at Nur Aesy Alifah, “Hubungan Antara Pernikahan Usia Dini dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia Dini,” J. Ilmu Sos. dan Hum., vol. 1, no. 2, hal. 61–68, 2023, [Daring]. Tersedia pada: https://isora.tpublishing.org/index.php/isora
[31] B. Saharani dan K. A. Putrikita, “Hubungan Antara Kematangan Emosi Dan Keharmonisan Keluarga Pada Pasangan Yang Menikah Di Usia Dini,” PSIKOSAINS (Jurnal Penelit. dan Pemikir. Psikologi), vol. 17, no. 2, hal. 106, 2022, doi: 10.30587/psikosains.v17i2.4583.
[32] A. Dariyo, M. Hadiati, dan R. Rahaditya, “Pemahaman Undang-Undang Perkawinan terhadap Penundaan Perkawinan Usia Dini di Indonesia,” J. An-Nafs Kaji. Penelit. Psikol., vol. 5, no. 1, hal. 25–37, 2020, doi: 10.33367/psi.v5i1.928.
[33] M. R. S. Masyithah, H. E. Wardani, dan A. Hapsari, “Hubungan Pengetahuan, Budaya, serta Dukungan Keluarga Terhadap Motivasi Pernikahan Dini,” Sport Sci. Heal., vol. 3, no. 9, hal. 656–662, 2021, doi: 10.17977/um062v3i92021p656-662.
[34] R. N. Vidalia dan M. Azinar, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkawinan Usia Dini Di Kecamatan Sukadana,” J. Kesehat. Masy., vol. 10, no. 1, hal. 115–121, 2022, doi: 10.14710/jkm.v10i1.32080.
[35] P. Ariani et al., “DAMPAK PERNIKAHAN USIA DINI PADA KESEHATAN REPRODUKSI Impact of early marriage on re productive health,” J. Pengabdi. Masy. Putri Hijau, vol. 1, no. 3, hal. 24–32, 2021, [Daring]. Tersedia pada: http://ejournal.delihusada.ac.id/index.php/JPMPH
[36] H. Khotimah dan R. Lindawati, “Analisis Pernikahan Usia Dini pada Wanita Usia Subur (Data SKAP BKKBN Provinsi Banten 2019),” Faletehan Heal. J., vol. 9, no. 02, hal. 170–175, 2022, doi: 10.33746/fhj.v9i02.329.
[37] S. Andy, P. Balqis Fahira Santoso, dan T. H. Pasaribu, “Faktor-faktor Penyebab Pernikahan di Usia Dini serta Upaya Penanganannya (Studi pada Kantor KUA Medan Denai),” Islamika, vol. 5, no. 1, hal. 217–226, 2023, doi: 10.36088/islamika.v5i1.2722.
[38] G. P. Kurniawan, S. Z. Shalikhah, H. Shofiat, N. N. Azizah, dan Mahmud Mochtar, “Pernikahan Dini Dan Peningkatan Penderita Stunting,” J. Tana Mana, vol. 2, no. 1, hal. 46–48, 2021.
[39] P. Ariani, G. G. Siregar, P. A. Y. Ariescha, A. B. Manalu, E. S. Wahyuni, dan M. N. Ginting, “Dampak Pernikahan Usia Dini Pada Kesehatan Reproduksi,” J. Pengabdi. Masy. Putri Hijau, vol. 1, no. 3, hal. 24–32, 2021, doi: 10.36656/jpmph.v1i3.707.
[40] S. L. Taher, “Hubungan Antara Budaya, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi Dengan Pernikahan Dini,” Indones. J. Midwifery Sci., vol. 1, no. 3, hal. 100–110, 2022, doi: 10.53801/ijms.v1i3.46.
[41] H. Widianto, N. Amalia, dan U. Muhammadiyah Kalimantan Timur, “Hubungan Budaya terhadap Pernikahan Usia Dini pada Remaja The Correlation of Culture to Early Marriage on Adolescent,” Borneo Student Res., vol. 3, no. 3, hal. 3000–3005, 2022.
[42] B. S. Muntamah dan S. Suryanto, “Ketahanan Keluarga Pada Pasangan Yang Menikah Di Usia Dini,” Psyche J. Psikol., vol. 5, no. 2, hal. 137–151, 2023, doi: 10.36269/psyche.v5i2.1346.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Sri Windani, Indri Meiliawati, Tri Suci Dewiwati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




