LEGAL CERTAINTY IN COASTAL ZONING FOR LOCAL WISDOM-BASED SEAWEED INDUSTRY DEVELOPMENT IN THE BLUE ECONOMY

Authors

  • Adelia Yuliana Faculty of Law, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta
  • Muthia Sakti Faculty of Law, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.53806/ijcss.v6i4.1218

Keywords:

Legal Certainty, Local Wisdom, Seaweed, RZWP-3-K, Blue Economy

Abstract

Indonesia’s coastal governance is characterized by jurisdictional overlaps and normative inconsistencies, which undermine the legal framework sustaining the seaweed sector within the Blue Economy paradigm. Employing a normative-doctrinal method, this study adopts the principle of legal certainty in coastal spatial planning and evaluates the scope of regional governments’ competence in integrating local wisdom into marine resource regulation. The analysis reveals that the centralization of authority under Law No. 6 of 2023 generates normative disharmony with Law No. 23 of 2014, thereby restricting provincial administrative jurisdiction over maritime affairs. This recentralization engenders regulatory dualism, overlapping licensing regimes, and weakens legal safeguards for coastal communities. In contrast, regional governments advance sustainable governance by institutionalizing local wisdom through participatory and empowerment-based mechanisms, which reconcile ecological imperatives with economic objectives. The study concludes that regulatory harmonization and juridical recognition of local wisdom are essential for equitable and sustainable marine development.

References

[1] C. S. A. Zulkarnain, D. E. Sukarsa, and M. Priyanta, “Regulasi Tata Ruang Pesisir Melalui Pendekatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Bagi Perlindungan Terumbu Karang di Indonesia,” LITRA: Jurnal Hukum Lingkungan, Tata Ruang, dan Agraria, vol. 1, no. 2, pp. 205–228, 2022, doi: 10.23920/litra.v1i2.767.

[2] J. Zaucha and K. Gee, Maritime Spatial Planning. Switzerland: Springer Nature Switzerland, 2019. [Online]. Available: http://library.oapen.org/handle/20.500.12657/22921

[3] N. Zahira, “RI Berpotensi Jadi Raja Rumput Laut, tapi Lahannya Baru Tergarap 0,8%,” Katadata.co.id, 2022. [Online]. Available: https://katadata.co.id/berita/industri/63235d20d5dd5/ri-berpotensi-jadi-raja-rumput-laut-tapi-lahannya-baru-tergarap-0-8

[4] A. Yustika, Muh. Kasnir, and A. Rauf, “Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Budidaya Rumput Laut (Eucheuma Cottoni) Dengan Metode Keramba Jaring Apung di Kabupaten Bulukumba,” Jurnal Manajemen Pesisir (JMPi), vol. 1, no. 1, pp. 47–59, 2022, [Online]. Available: https://pasca-umi.ac.id/index.php/jimpi/article/view/1382

[5] D. Workman, “Top Edible Seaweed Exports by Country 2023,” Worldstopexports.com, 2025. [Online]. Available: https://www.worldstopexports.com/top-edible-seaweed-exports-by-country/

[6] WALHI, “Hentikan Proses Revisi RZWP3K yang Mengakomodir Kepentingan Investasi dan Mengabaikan Hak Masyarakat dalam Pengelolaan Kawasan Pesisir Pulau-Pulau Kecil di Bengkulu,” Walhi.or.id, 2022. [Online]. Available: https://www.walhi.or.id/hentikan-proses-revisi-rzwp3k-yang-mengakomodir-kepentingan-investasi-dan-mengabaikan-hak-masyarakat-dalam-pengelolaan-kawasan-pesisir-pulau-pulau-kecil-di-bengkulu

[7] WALHI, “Pengesahan RZWP-3-K Banten: Legalisasi Perampasan Ruang dan Kejahatan Lingkungan, Tanpa Transparansi dan Partisipasi Masyarakat yang akan Terdampak,” Walhi.or.id, 2021. [Online]. Available: https://www.walhi.or.id/pengesahan-rzwp-3-k-banten-legalisasi-perampasan-ruang-dan-kejahatan-lingkungan-tanpa-transparansi-dan-partisipasi-masyarakat-yang-akan-terdampak

[8] WALHI, “Gubernur Sulsel: Saya Berjanji Akan Menghapus Alokasi Tambang Pasir Laut Dalam RAPERDA RZWP3K Provinsi,” Walhi.or.id, 2018. [Online]. Available: https://walhisulsel.or.id/2164-gubernur-sulsel-saya-berjanji-akan-menghapus-alokasi-tambang-pasir-laut-dalam-raperda-rzwp3k-provinsi/

[9] D. Valderrama, J. Cai, N. Hishamunda, and N. Ridler, “Social and Economic Dimensions of Carrageenan Seaweed Farming,” Food and Agriculture Organizations, Rome, 2013. [Online]. Available: https://www.fao.org/4/i3344e/i3344e.pdf

[10] Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

[11] Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

[12] Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

[13] Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.

[14] T. T. Tutik, “Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum ditinjau dari Sudut Filsafat Ilmu dan Teori Ilmu Hukum,” Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, vol. 24, no. 3, pp. 443–458, 2012, doi: 10.22146/jmh.16114.

[15] S. Suryanti, S. Supriharyono, and S. Anggoro, Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Semarang: UNDIP Press Semarang, 2019.

[16] S. Surianti, A. Asrim, and R. Wardana, “Analisis Dampak Penambangan Pasir Laut Terhadap Lingkungan dan Sosial-Ekonomi di Desa Kamelanta Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton,” Jurnal Media Inovasi Teknik Sipil, vol. 12, no. 2, pp. 59–64, 2023, doi: 10.55340/jmi.v12i2.1433.

[17] F. Sultana et al., “Seaweed Farming for Food and Nutritional Security, Climate Change Mitigation and Adaptation, and Women Empowerment: A Review,” Aquac Fish, vol. 8, no. 5, pp. 463–480, 2022, doi: 10.1016/j.aaf.2022.09.001.

[18] R. Sofiah, S. Suhartono, and R. Hidayah, “Analisis Karakteristik Sains Teknologi Masyarakat (STM) Sebagai Model Pembelajaran: Sebuah Studi Literatur,” Pedagogi: Jurnal Penelitian Pendidikan, vol. 7, no. 1, pp. 1–18, 2020, doi: 10.25134/pedagogi.v7i1.2611.

[19] S. Legal, “PKKPR Laut: Syarat dan Cara Pengurusannya,” SmartLegal.id, 2024. [Online]. Available: https://smartlegal.id/perizinan/2024/03/31/pkkpr-laut-syarat-dan-cara-pengurusannya/

[20] D. J. Sari, L. Sintia, R. Kurniawan, E. Satmaidi, and W. Wulandari, “Permasalahan Penataan Ruang di Pesisir Pantai Panjang: Antara Perlindungan Lingkungan Untuk Wisata Alam Berkelanjutan dan Dorongan Pariwisata,” Causa: Jurnal Hukum Dan Kewarganegaraan, vol. 12, no. 10, pp. 71–80, 2025, doi: 10.6679/b9f3dq76.

[21] B. Sardjana and I. A. Ibrahim, “Manfaat Lokasi Dangkal Untuk Budidaya Rumput Laut,” Jasuda.net, 2025. [Online]. Available: https://jasuda.net/berita_detail.php?ID=1610

[22] H. A. Santoso, “Perspektif Keadilan Hukum Teori Gustav Radbruch Dalam Putusan PKPU ‘PTB.,’” Jurnal Jatiswara, vol. 36, no. 3, pp. 326–335, 2021, doi: 10.29303/jatiswara.v36i3.341.

[23] M. Sakti, D. A. Ramadhani, and Y. Y. Wahyuningsih, “Perlindungan Konsumen Terhadap Beredarnya Makanan yang Tidak Bersertifikat Halal,” Jurnal Yuridis, vol. 2, no. 1, pp. 62–77, 2017, doi: 10.35586/.v2i1.161.

[24] M. Rummar, “Kearifan Lokal dan Penerapannya di Sekolah,” Jurnal Syntax Transformation, vol. 3, no. 12, pp. 1580–1588, 2022, doi: 10.46799/jst.v3i12.655.

[25] M. Riszky, A. Exwar, R. Rahman, and A. Chairunnisa, “Highlights 2024: Praktik Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kepulauan Berbasis Masyarakat: Menghadapi Krisis Iklim dan Pembelajaran dari Kebijakan Nasional,” Jaring Nusa, Makassar, 2024. [Online]. Available: https://drive.google.com/file/d/1NKwLL9IkyuS6qyXn7_WCPR2MZDW-OsDW/view?pli=1

Downloads

Published

2025-11-17